Sunday, July 17, 2016

Mengatasi Masalah "Windows cannot load the users profile..."

Beberapa hari belakangan ini, Windows pada Laptop "djadoel" saya lambat sekali setiap startup . Ternyata lambatnya startup adalah karena Windows tidak menemukan "Personal Setting" , sehingga kemudian setiap startup Windows membuat setting baru. Muncul pesan: "Windows cannot load the users profile but has logged you on with the default profile ..."



Selain startup yang lambat, file file yang saya simpan di folder My Documents juga hilang. Add on yang saya install di browser Firefox juga hilang. Setiap kali komputer shutdown, semua setting yang saya buat di komputer hilang.

Saya sudah berusaha mencari informasi cara mengatasi masalah ini melalui mesin pencari di internet. Beberapa cara yang sudah saya coba adalah :

1) Mengaktifkan System Restore

2) Mengganti setting registry.

HKEY_CURRENT_USER \ Software \ Microsoft \ Windows \ CurrentVersion \ Policies \ Explorer

"NoSaveSettings"

Value=1




Kedua cara itu tidak berhasil mengatasi masalah saya. Personal Setting dan file file yang saya simpan di folder My Documents , serta Add on yang saya install di browser Firefox hilang setiap kali komputer shutdown,.

Kemudian saya mendapatkan di posting yang dibuat Crono139 di situs Bleepingcomputer.com. Crono139 mengatakan telah berhasil mengatasi masalah ini dengan cara sangat sederhana. Yaitu dengan membuat Account baru.

Cara yang dilakukan Crono139 ini saya tiru. Saya masuk ke Control Panel > User Account > Create New Account

Kemudian, komputer saya shutdown untuk memeriksa apakah cara itu berhasil.

Ternyata masalah tersebut hilang setelah saya membuat Account baru, sesuai yang di posting Crono139 . Personal Setting dan file file yang saya simpan di folder My Documents , serta Add on yang saya install di browser Firefox tetap tersimpan dengan aman.

Mengatasi Masalah "Windows cannot load the users profile..."

Beberapa hari belakangan ini, Windows pada Laptop "djadoel" saya lambat sekali setiap startup . Ternyata lambatnya startup adalah karena Windows tidak menemukan "Personal Setting" , sehingga kemudian setiap startup Windows membuat setting baru. Muncul pesan: "Windows cannot load the users profile but has logged you on with the default profile ..."

Selain startup yang lambat, file file yang saya simpan di folder My Documents juga hilang. Add on yang saya install di browser Firefox juga hilang. Setiap kali komputer shutdown, semua setting yang saya buat di komputer hilang.
Saya sudah berusaha mencari informasi cara mengatasi masalah ini melalui mesin pencari di internet. Beberapa cara yang sudah saya coba adalah :
1) Mengaktifkan System Restore
2) Mengganti setting registry.
HKEY_CURRENT_USER \ Software \ Microsoft \ Windows \ CurrentVersion \ Policies \ Explorer
"NoSaveSettings"
Value=1


Kedua cara itu tidak berhasil mengatasi masalah saya. Kemudian saya mendapatkan di posting yang dibuat Crono139 di situs [Bleepingcomputer.com www.bleepingcomputer.com/forums/u/81956/crono139/]. Crono139 mengatakan telah berhasil mengatasi masalah ini dengan cara sangat sederhana. Yaitu dengan membuat Account baru.
Cara yang dilakukan Crono139 ini saya tiru. Saya masuk ke Control Panel > User Account > Create New Account
...dan... berhasil..!
Masalah tersebut hilang setelah saya membuat Account baru. Personal Setting dan file file yang saya simpan di folder My Documents , serta Add on yang saya install di browser Firefox tetap tersimpan dengan aman.

Saturday, July 9, 2016

Ketika Sup Tomyam Menjelma Jadi Kangkung Balacan

Saya ke D'Cost Pasar Festival, Jakarta Selatan pada Sabtu siang, 9 Juli 2016. Salah satu menu D'Cost yang saya suka adalah Sup Tomyam , dan siang itu saya ingin menikmati menu kesukaan saya ini.



Kalau Anda pernah makan di D'Cost, saya kira saya tidak perlu menceritakan bahwa cara memilih menu di D'Cost adalah dengan mengambil sendiri kartu yang sesuai dengan menu yang kita pesan. Jadi siang itu saya langsung mengambil satu kartu pada kotak di bawah gambar dan tulisan Sup Tomyam, dan segera ke kasir. (D'Cost Pasar Festival adalah D'Cost Quick alias "express", alias "self service"). Setelah menerima kartu menu pesanan saya, kasir D'Cost menyebutkan harga yang harus saya bayar: "Dua puluh dua ribu rupiah " .

Saya heran mendengar kasir menyebut angka Rp 22 ribu tersebut. Seingat saya, harga Sup Tomyam adalah Rp 30 ribu. Tetapi saya diam saja. Saya pikir, mungkin D'Cost Pasar Festival sedang ada diskon.(..... ngarep dot com... ha.. ha..ha.... Apalagi saya pernah baca mengenai strategi marketing D'Cost di posting Emang Pendekar Bodoh! ).

Setelah saya membayar dan menerima struk kasir, saya baca di struk yg tertulis ternyata bukan "Sup Tomyam" tetapi "Kangkung Balacan". Pantas harganya Rp 22 ribu, bukan Rp 30 ribu. Saya mulai mengira-ngira mengapa sampai terjadi hal ini? Apakah saya salah mengambil kartu menu? Apakah kasir salah membaca kartu menu? Sepertinya kecil kemungkinan saya keliru mengambil kartu menu, karena kotak kartu menu Sup Tomyam berjauhan dengan kotak kartu menu Kangkung Balacan. Juga kecil kemungkinan kasir salah membaca kartu menu, karena tulisan "Sup Tomyam" jelas beda dengan tulisan "Kangkung Balacan". Akhirnya saya menduga, bahwa kartu menu "Kangkung Balacan" itu terselip ataupun salah masuk ke kotak menu "Sup Tomyam" dan saya tidak memeriksa lagi sewaktu akan menyerahkan kartu mereka itu ke kasir.

Sebenarnya saya bisa saja meminta kasir meralat pesanan yang keliru ini, tetapi kemudian saya tertarik untuk menikmati menu "Kangkung Balacan" yang memang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Jadi saya biarkan saja nasi yang terlanjur jadi bubur, eh maksud saya Tomyam yang terlanjur jadi Kangkung ini. Akan saya jadikan kekeliruan ini kekeliruan yang indah, eh kekeliruan yang nikmat... :-) :-)

Beberapa menit kemudian , Tomyam yang menjelma jadi Kangkung itu telah siap. Saya memang sudah lapar, sampai lupa memotret Kangkung jelmaan Tomyam itu. Baru setelah kangkung itu tinggal separuh, saya ingat untuk memotretnya sebagai ilustrasi posting blog ini. Jadi harap dimaklumi kalau penampilan Kangkung jelmaan ini sudah tidak rapi dan jadi kurang enak dilihat.... meskipun rasanya tetap nikmat..

Tuesday, July 5, 2016

Kejanggalan di waktu Ramadhan dan Idul Fitri

TURUN 1 KG , NAIK 3 KG

Seusai Ramadhan, mungkin karena merasa sudah "dibebaskan’ untuk makan-minum di siang hari, banyak dari kita yang jadi kurang bijak. Segala macam makanan masuk perut. Akibatnya selepas Idul Fitri, banyak yang mengeluhkan sakit perut, berat badan naik, kolesterol naik, tekanan darah naik, ....

Saya pernah membaca sebuah comment di sebuah blog.: "minal aidin wal faidzin...sepertinya tahun ke tahun makna puasa perlahan berubah dari melawan hawa nafsu menjadi menimbun hawa nafsu hingga lebaran. ..jadi seperti ajang balas dendam…"



KONSUMSI MENINGKAT

Orang yang menjalankan ibadah puasa mengendalikan hawa nafsu. Resminya, kegiatan makan selama Ramadhan berkurang menjadi 2 kali sehari, dari 3 kali sehari pada waktu di luar Ramadhan. Meskipun demikian, ternyata tingkat konsumsi masyarakat (yang sebagian besar beribadah puasa) justru meningkat.

Menurut sebuah riset Danareksa, biasanya pada akhir Ramadhan atau mendekati Lebaran pedagang eceran menikmati peningkatan keuntungan sampai 3-6 kali lipat. Saya juga pernah mendengar dari seorang broker saham bahwa mendekati Idul Fitri, harga saham-saham perusahaan ritel yang tercatat di Bursa Effek Indonesia biasanya naik, karena adanya ekspektasi peningkatan pendapatan. Seorang manajer pemasaran sebuah perusahaan biskuit mengatakan, siklus penjualan biskuit dan makanan/minuman ringan biasanya mencapai puncaknya pada menjelang Idul Fitri.
Kemudian, dengan adanya tradisi mudik lebaran, bukan tidak mungkin, bahwa perusahaan perusahaan transportasi juga menikmati siklus naiknya pendapatan pada waktu sekitar Idul Fitri.



BULAN RAMADHAN = BULAN SUCI?

Ramadhan bukan bulan suci! Demikianlah kata Khatib salat Jumat di Masjid Baitussalam, Duren Tiga, Jakarta Selatan. 22 Agustus 2008. Menurut khatib, dalam literatur-literatur Islam hanya ada empat bulan suci, dan Ramadhan tidak termasuk dalam empat bulan suci tersebut. Anggapan Ramadhan sebagai bulan suci adalah salah satu salah kaprah umat Islam. Menurut khatib, sebutan yang paling tepat untuk Ramadhan adalah bulan Ibadah.



SALAT TARAWIH

Masih menurut khatib salat Jumat di atas, salah kaprah umat Islam berikutnya adalah penyelenggaraan salat Tarawih di rumah-rumah pejabat dan juga di hotel-hotel berbintang dengan menghadirkan aktris / selebriti. Hal ini menurut khatib telah menarik jemaah dari masjid-masjid. Psdahal pusat ibadah umat Muslim adalah masjid, bukan rumah pejabat atau hotel-hotel. Khatib mengkhawatirkan penyelenggaraan salat Tarawih di tempat-tempat tersebut mengaburkan makna dan tujuan salat tarawih dan ibadah Ramadhan.



BULAN RAMADHAN (HANYA) BULAN PUASA?

Sejak menjelang bulan Ramadhan, tentu kita sering mendengar dan bahkan mendapat ucapan "Selamat menjalankan ibadah puasa.". Saya juga demikian. Tetapi saya ingin sekali mengatakan bahwa ucapan "Selamat menjalankan ibadah puasa" bukan ucapan yang tepat. Menurut saya, di bulan Ramadhan, umat Muslim bukan hanya diwajibkan berpuasa, tetapi dianjurkan meningkatkan semua ibadah. Saya lebih suka mengucapkan "Selamat menjalankan ibadah Ramadhan."
Bagaimana menurut Anda?



MENUNAIKAN ZAKAT PADA BULAN RAMADHAN

Umat Muslim banyak yang menunaikan kewajban Zakat Maal (harta) dan zakat penghasilan pada bulan Ramadhan. Padahal hanya Zakat Fitrah yang wajib di bulan Ramadhan. Zakat selain Zakat Fitrah tidak harus pada bulan Ramadhan. Hal ini disampaikan pembicara dari BAZNAS di Radio Elshinta tanggal 4 Agustus 2013. Kata pembicara dari BAZNAS tsb. Zakat penghasilan wajib dibayarkan setiap kali menerima penghasilan. Zakat Maal (harta) wajib dibayarkan setelah mencapai jumlah (nisab) dan waktu kepemilikan mencapai 1 tahun. Tidak harus menunggu Ramadhan.



IDUL FITRI = HARI KEMENANGAN?

Konon, Rasulullah dan para sahabatnya justru menangis di hari-hari terakhir Ramadhan, karena Ramadhan akan pergi dan tak ada satupun kepastian mereka akan berjumpa lagi dengan bulan penuh ampunan itu. Jadi semestinya tidak tepat kita menyebut Idul Fitri sebagai hari kemenangan.

Kenaikan konsumsi, kenaikan harga bahan pokok dan data bahwa keuntungan para pedagang eceran dan pengusaha ritel yang meningkat pesat menjelang Idul Fitri, menunjukkan bahwa para pedagang dan pengusaha itulah yang menang pada Idul Fitri.

Bagaimana menurut Anda?

Selamat Idul Fitri. Semoga Allah menerima ibadah kita

Monday, June 13, 2016

Iklan Sepatu AP Boot

Video iklan sepatu AP Boot dengan adegan anak-anak (bahkan bayi ) yang suka menginjak kaki kawannya, bagi sebagian orang mungkin dianggap lucu.



Tetapi menurut saya, iklan ini tidak pantas ditayangkan, apalagi disaksikan oleh anak-anak. Dalam hal ini saya tidak sendirian. Sebuah tweet dari Charlie @ChBdmn pada 27 Maret 2016 mengatakan " @KPI_Pusat tolong komisi penyiaran menarik iklan sepatu boot AP yg tdk mendidik di TV. ".

Menurut saya, iklan sepatu AP Boot ini lebih buruk dari pada iklan Gery Chocolatos yang ada adegan seorang anak yang masuk dalam lemari es sambil menikmati Gery Chocolatos .
Iklan Gery Chocolatos ini menuai kritikan dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Dalam Surat bernomor 333/K/KPI/05/12, KPI Pusat menghimbau bahwa siaran yang melibatkan anak-anak wajib mengikuti ketentuan peraturan perundang-undangan dan etika yang mengatur hal tersebut.
Kalau iklan Gery Chocolatos saja dikritik, tentunya iklan sepatu AP Boot harus ditegur oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).
Bagaimana menurut Anda?

Friday, May 13, 2016

Dibonceng Mbak Ida Royani

Saya merasa canggung duduk di sadel belakang sepeda motor yang dikendarai Mbak Ida Royani. Saya tidak tahu, apakah Mbak Ida Royani merasakan kecanggungan saya yang duduk di belakang punggungnya selama perjalanan dari Metro Pondok Indah ke Mampang Prapatan, Jumat malam, 6 Mei 2016 yang lalu. Hanya pada waktu masih kanak kanak saya duduk di sadel belakang sepeda motor yang dikendarai perempuan, baik itu tante atau kakak kakak perempuan saya. Setelah remaja dan dewasa, saya tidak pernah lagi duduk di sadel belakang sepeda motor yang dikendarai perempuan. Setelah remaja dan dewasa, sayalah yang mengemudi, dan perempuan perempuan itu yang duduk di belakang punggung saya.
Pada waktu masih kanak kanak, sewaktu duduk di sadel belakang sepeda motor, saya harus memegang atau memeluk erat erat pinggang tante atau kakak kakak perempuan saya yang mengemudi sepeda motor. Mereka akan menegur saya kalau pegangan atau pelukan saya kurang erat. "Pegangan yang kuat. Nanti jatuh!" Seperti itulah kurang lebih yang mereka katakan. Sekarang saya bukan lagi anak anak, dan Mbak Ida Royani bukan tante ataupun kakak perempuan saya. Meskipun duduk tepat di belakang punggungnya, saya tidak mungkin memegang atau memeluk pinggang Mbak Ida Royani. Duduk dibelakang punggungnya saja saya sudah canggung.
Sebelum terlalu jauh, saya jelaskan dahulu bahwa Mbak Ida Royani yang saya ceritakan di posting ini bukan Ida Royani penyanyi dan pemain film pada era 70 an yang sering tampil dalam film bersama Benyamin Sueb. Namanya pun baru saya ketahui beberapa waktu yang lalu pada aplikasi pemesanan ojek online.
Waktu itu, Jumat malam, 6 Mei 2016, sekitar jam 10 malam, di sekitar Jalan Metro Pondok Indah, Jakarta Selatan, saya memesan ojek online Grab Bike. Beberapa saat kemudian, di layar ponsel saya muncul notifikasi "We 've found you a driver". Di bawah notifikasi, ada foto dan nama pengemudi Grab Bike yang mengambil order saya. Tidak biasanya, ternyata kali ini nama pengemudi Grab Bike yang akan mengantar saya adalah nama perempuan: Ida Royani.
Semula saya masih belum yakin, pengemudi yang mengambil order saya adalah seorang perempuan. Saya memang pernah mendengar ada beberapa pengemudi ojek perempuan. Saya juga pernah 3 kali naik taksi yang dikemudikan pengemudi perempuan. (Satu di antara pengemudi taksi perempuan itu mengatakan, sebelumnya dia adalah pengemudi Bus TransJakarta). Meskipun demikian, saya mengira, pengemudi-pengemudi ojek perempuan dan pengemudi-pengemudi taksi perempuan tidak bekerja sampai larut malam. Saya masih menganggap, jalanan Jabodetabek di malam hari tidak cukup ramah kepada perempuan.
Sesaat kemudian, ponsel saya berdering. Saya mendengar suara perempuan menanyakan lokasi tempat saya ingin dijemput. Setelah itu, saya baru yakin, pengemudi Grab Bike yang akan mengantar saya memang seorang perempuan. Tidak lama kemudian, perempuan pengemudi Grab Bike itu datang. Saya tidak dapat melihat wajah Mbak Ida Royani, pengemudi Grab Bike ini, karena dia memakai penutup wajah.
Saya sampai di tempat tinggal saya sekitar jam 22:30. Setelah membayar, saya berpesan kepada Mbak Ida Royani: "Hati-hati ya Mbak." Dia menjawab dengan mengingatkan saya untuk memberikan bintang di laman review aplikasi Grab Bike.
Setelah itu Mbak Ida Royani kembali memacu sepeda motornya menembus malam Jakarta. Mungkin bagi Mbak Ida Royani, pesan agar berhati hati sudah terlalu biasa dan tidak beda dengan basa basi. Tampaknya pesan semacam itu tidak lebih penting dari jumlah bintang yang diberikan customer pada laman review aplikasi Grab Bike.
Meskipun demikian, saya tetap menganggap, seharusnya pengemudi-pengemudi taksi perempuan dan pengemudi-pengemudi ojek perempuan seperti Mbak Ida Royani tidak bekerja sampai larut malam. Bagi saya, jalanan Jabodetabek di malam hari tidak cukup ramah kepada perempuan, termasuk kepada Mbak Ida Royani.

Belakangan saya berpikir mengapa Mbak Ida Royani selalu menutup wajahnya. Sejak menjemput saya di Metro Pondok Indah sampai mengantar saya ke Mampang Prapatan, saya tidak pernah melihat wajahnya. Sepertinya, menutup wajah adalah semacam pertahanan bagi Mbak Ida Royani terhadap ketidakramahan jalanan Jabodetabek di malam hari kepada perempuan.

Friday, May 6, 2016

Terlezat ke 2 Se Timur Tengah... Anda tidak ketagihan jangan anda bayar !

Hari itu Rabu sore, 4 Mei 2016 lalu lintas Jakarta lebih padat dari pada biasanya. Mungkin karena besok Kamis dan Jumat adalah hari libur. Saya ditraktir seorang teman di restoran di sekitar Wolter Monginsidi, Jakarta Selatan. Di papan nama restoran ini ada tulisan "Terlezat ke 2 Se Timur Tengah... Anda tidak ketagihan jangan anda bayar !, ... Low Cholesterol ...".


Saya tertarik dengan nama menu "Soto Cairo" di daftar menu, jadi saya pilih menu itu. Sedangkan teman saya memilih menu Nasi Goreng Kambing. Untuk minuman, saya memilih Wedang Jahe. Setelah beberapa saat, pesanan kami diantar ke meja. Wedang Jahenya OK , tetapi tidak demikian dengan makanan nya.
Ternyata Soto Cairo ini pakai kuah santan. Saya jadi heran, bukankah katanya "Low Cholesterol"?. Terus, daging sotonya ternyata daging yang digoreng sampai kering seperti empal. Ini di luar perkiraan saya. Dalam bayangan saya, daging dalam dalam soto adalah daging rebus, bukan daging yang digoreng, apalagi digoreng sampai kering.
Bagaimana dengan rasanya? Terpaksa saya katakan, rasa Soto Cairo ini masih jauh dari lezat. Jadi masakan yang dinamakan Soto Cairo ini beda banget dari yang saya bayangkan dan saya harapkan sebelumnya. Hampir saja saya protes. Tetapi ... apa yang bisa saya protes? Tidak ada satupun claim restoran ini yang bisa saya salahkan.
Soal kuah santan? Bisa saja pihak restoran menjawab, "ini santan yang Low Cholesterol"... high ataupun low adalah relatif. Soal daging goreng kering seperti empal? Pihak restoran tinggal bilang , "daging digoreng memakai minyak goreng rendah cholesterol ". Atau bilang saja, "Daging Soto di Cairo memang begitu ". Saya tidak mungkin bisa membantah, karena belum pernah ke Cairo. Soal rasa? Rasa adalah relatif dan subjektif. Restoran ini mengaku "Terlezat ke 2" (bukan ke 1) , itupun "Se Timur Tengah" (bukan se Indonesia, ataupun se Kebayoran Baru). Saya tidak mungkin bisa membantah, karena belum pernah ke Timur Tengah.
Jadi saya harus menerima bahwa semua claim restoran ini tidak ada yang salah, Terus, soal "tidak ketagihan jangan bayar" ? Lha iyalah, saya memang tidak bayar, 'khan saya ditraktir :-)